Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu'ara, 24-27).
Begitu ayat tersebut turun dan dideklamasikan oleh Nabi, nama-nama seperti Ka’ab bin Malik, Hassan bin Tsabit, Ka'ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah beserta penyair-penyair muslim lainnya tergoncang hatinya. Mungkin mereka membatin, kata-kata indah yang telah lama mendarah daging dalam tubuhnya segera lenyap dari kehidupan. Sebagai seorang muslim yang taat tentu dengan senang hati melaksanakan apapun yang dititahkan Nabi, termasuk meninggalkan profesi sebagai penyair.
Kemudian tergopoh-gopoh dua di antara mereka menjadi perwakilan untuk meminta kejelasan kepada Nabi, Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Nabi menjawabnya, “Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidahnya.” Jawaban Nabi tersebut dapat mereka tangkap maksudnya, selama apa yang ditulis seorang penyair itu baik (tidak bertentangan dengan norma-norma agama) maka sah-sah saja menjadi penyair, bahkan sangat terpuji.
Sastra berbentuk syair memang sangat semarak pada masa itu, Islam yang dibawa Muhammad basah kuyup dihujani puisi-puisi dari para penyair jahiliyah. Karena talenta yang mereka miliki adalah meracik kata-kata, maka mereka pun mengolok-olok Islam lewat jalur kata-kata, jalur syair tentunya. Seperti halnya Abu Sufyan, sebelum masuk Islam penyair satu ini amat giat merangkai kata-kata busuk demi merendahkan martabat Islam. Talenta kebahasaannya yang memukau ia gunakan untuk menjelek-jelekkan Nabi berikut pengikutnya.
Lalu bagaimana Rasul melawan hujan kata-kata dari para penyair kafir itu? Saya kira tidak cukup dengan Al-Quran. Hati mereka lebih keras dibanding batu. Nabi Muhammad terlanjur mereka tuduh sebagai penyair, dan ayat-ayat al-Quran hanyalah puisi-puisi karangannya. Nabi cukup cerdik dengan masalah semacam itu, Islam pada waktu itu sudah memiliki daftar sendiri nama-nama penyair. Termasuk Ka’ab bin Malik dan beberapa nama yang sudah disebutkan di atas. Mereka menarikan pena di atas kulit-kulit onta dan pelepah-pelepah kurma syair-syair indah yang menjunjung tinggi kebesaran Tuhan, hingga syair-syair itu siap ‘diteriakkan’ di hadapan musuh-musuh-Nya. Sungguh menakjubkan, kata-kata dibalas dengan kata-kata. Rupanya benar, kata juga bisa jadi senjata.
Sungguh mulia para penyaji kata yang benar-benar menyajikan kata-katanya di jalan kebaikan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan menyiratkan amanat-amanat luhur yang terkandung dalam karya-karya mereka. Bila kita saksikan, sampai detik ini masih banyak kata-kata yang mempora-porandakan nilai-nilai perdamaian. Kata-kata dibebani oleh makna-makna yang tidak sepatutnya. Kata-kata disiksa, diperkosa, dibunuh pelan-pelan oleh para penulisnya demi tujuan politik. Kata-kata indah hanya dipakai untuk merakit sebuah topeng yang kemudian dipakai empunya menutupi wajah monsternya sendiri. Kata-kata tak lain sebuah kedok ternyata. Kata-kata dihamburkan kesana-kemari untuk mengibuli masyarakat dan mencari pembelaan dari masyarakat. Kata-kata semacam itu turun teramat deras layaknya hujan besar yang terjadi pada zaman Nuh dahulu. Kasihan sekali kata-kata…
Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang benar-benar sadar akan keadaan seperti ini. Bagaimana dengan kita yang sungguh mencintai kata-kata? Tentunya tidak berharap kata-kata diperlakukan senonoh dan sembarangan. Bagaimanapun kita harus mempersiapkan payung untuk berteduh sekaligus merakit senjata canggih untuh menghujani mereka dengan kata-kata pula. Dengan syair, prosa, opini, catatan ringan, juga cerita-cerita yang membangun dan mengentaskan manusia dari jurang diskriminasi dan amoral.
Huruf demi huruf, kata demi kata, para utusan Tuhan mati-matian membangun peradaban supaya sarat dengan nilai-nilai kedamaian. Kita?
*Untuk Nuriya Haveedz: Pada siapa kau arahkan senjata yang kau rakit pada setiap penghujung malam? Semoga bukan (sekedar) pada diri sendiri; karena menulis 'puisi kamar' bukanlah suatu kesalahan, namun bisa sangat berbahaya bila diprioritaskan.
Begitu ayat tersebut turun dan dideklamasikan oleh Nabi, nama-nama seperti Ka’ab bin Malik, Hassan bin Tsabit, Ka'ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah beserta penyair-penyair muslim lainnya tergoncang hatinya. Mungkin mereka membatin, kata-kata indah yang telah lama mendarah daging dalam tubuhnya segera lenyap dari kehidupan. Sebagai seorang muslim yang taat tentu dengan senang hati melaksanakan apapun yang dititahkan Nabi, termasuk meninggalkan profesi sebagai penyair.
Kemudian tergopoh-gopoh dua di antara mereka menjadi perwakilan untuk meminta kejelasan kepada Nabi, Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Nabi menjawabnya, “Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidahnya.” Jawaban Nabi tersebut dapat mereka tangkap maksudnya, selama apa yang ditulis seorang penyair itu baik (tidak bertentangan dengan norma-norma agama) maka sah-sah saja menjadi penyair, bahkan sangat terpuji.
Sastra berbentuk syair memang sangat semarak pada masa itu, Islam yang dibawa Muhammad basah kuyup dihujani puisi-puisi dari para penyair jahiliyah. Karena talenta yang mereka miliki adalah meracik kata-kata, maka mereka pun mengolok-olok Islam lewat jalur kata-kata, jalur syair tentunya. Seperti halnya Abu Sufyan, sebelum masuk Islam penyair satu ini amat giat merangkai kata-kata busuk demi merendahkan martabat Islam. Talenta kebahasaannya yang memukau ia gunakan untuk menjelek-jelekkan Nabi berikut pengikutnya.
Lalu bagaimana Rasul melawan hujan kata-kata dari para penyair kafir itu? Saya kira tidak cukup dengan Al-Quran. Hati mereka lebih keras dibanding batu. Nabi Muhammad terlanjur mereka tuduh sebagai penyair, dan ayat-ayat al-Quran hanyalah puisi-puisi karangannya. Nabi cukup cerdik dengan masalah semacam itu, Islam pada waktu itu sudah memiliki daftar sendiri nama-nama penyair. Termasuk Ka’ab bin Malik dan beberapa nama yang sudah disebutkan di atas. Mereka menarikan pena di atas kulit-kulit onta dan pelepah-pelepah kurma syair-syair indah yang menjunjung tinggi kebesaran Tuhan, hingga syair-syair itu siap ‘diteriakkan’ di hadapan musuh-musuh-Nya. Sungguh menakjubkan, kata-kata dibalas dengan kata-kata. Rupanya benar, kata juga bisa jadi senjata.
Sungguh mulia para penyaji kata yang benar-benar menyajikan kata-katanya di jalan kebaikan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan menyiratkan amanat-amanat luhur yang terkandung dalam karya-karya mereka. Bila kita saksikan, sampai detik ini masih banyak kata-kata yang mempora-porandakan nilai-nilai perdamaian. Kata-kata dibebani oleh makna-makna yang tidak sepatutnya. Kata-kata disiksa, diperkosa, dibunuh pelan-pelan oleh para penulisnya demi tujuan politik. Kata-kata indah hanya dipakai untuk merakit sebuah topeng yang kemudian dipakai empunya menutupi wajah monsternya sendiri. Kata-kata tak lain sebuah kedok ternyata. Kata-kata dihamburkan kesana-kemari untuk mengibuli masyarakat dan mencari pembelaan dari masyarakat. Kata-kata semacam itu turun teramat deras layaknya hujan besar yang terjadi pada zaman Nuh dahulu. Kasihan sekali kata-kata…
Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang benar-benar sadar akan keadaan seperti ini. Bagaimana dengan kita yang sungguh mencintai kata-kata? Tentunya tidak berharap kata-kata diperlakukan senonoh dan sembarangan. Bagaimanapun kita harus mempersiapkan payung untuk berteduh sekaligus merakit senjata canggih untuh menghujani mereka dengan kata-kata pula. Dengan syair, prosa, opini, catatan ringan, juga cerita-cerita yang membangun dan mengentaskan manusia dari jurang diskriminasi dan amoral.
Huruf demi huruf, kata demi kata, para utusan Tuhan mati-matian membangun peradaban supaya sarat dengan nilai-nilai kedamaian. Kita?
*Untuk Nuriya Haveedz: Pada siapa kau arahkan senjata yang kau rakit pada setiap penghujung malam? Semoga bukan (sekedar) pada diri sendiri; karena menulis 'puisi kamar' bukanlah suatu kesalahan, namun bisa sangat berbahaya bila diprioritaskan.

0 Responses to “HUJAN TINTA*”
Post a Comment