AMANDA, POTONGAN SURAT MAXIME DU CAMP UNTUK THEOPHILE GAUTIER, DAN GADIS BERNAMA NURIYA
0 Comments Published by fuddyduddy on Wednesday, August 31, 2011 at 2:03 AM.
"Percayalah padaku, tatkala ketumpulan negara kita yang dingin melemahkan hatimu, tatkala kau berhasrat untuk memasuki dan berhubungan langsung dengan alam seraya meneguk air dalam-dalam dari sumber bermacam hal, maka, arungilah Laut Mediterania dan mendaratlah di negeri kuno bernama Mesir. Hirup aroma kedamaian di sepanjang Sungai Nil yang tenang. Kagumi reruntuhan bangunan-bangunan kunonya. Hanyutkan pikiranmu ke dalam keelokan-keelokan pemandangan alamnya. Manjakan telingamu dengan mendengarkan musik-musik padang pasir yang berbisik lirih pada mereka yang memahami. Jangan lupa pula untuk mengembara; dengan penuh keberanian mengarungi gurun pasir yang terhampar luas. Maka, pada saat itu pula, kau akan merasa jauh lebih muda dan kuat, semakin giat dan lebih produktif. Dan, percayalah padaku, kau akan merasa lebih dekat dengan Tuhan."
Tahun 1348 Masehi, wabah mematikan menyerang Mesir. Wabah ini diduga berasal dari padang rumput luas di Asia Tengah di mana sebuah gudang disangka menjadi pusat hama mematikan. Dengan cepat benih-benihnya tersebar hingga Laut Hitam, kemudian sampai ke daratan Mesir melalui tikus-tikus yang dibawa kapal-kapal para saudagar Kristen. Pada bulan Oktober tahun tersebut, ribuan penduduk Kairo mati karenanya, dan baru mereda pada bulan Februari tahun berikutnya. Hingga saat ini, wabah tersebut akrab dengan sebutan Black Death. Kematian Hitam.
Paragraf pertama di atas adalah potongan surat Maxime Du Camp untuk sahabat karibnya, Theophile Gautier. Sementara paragraf di bawahnya sekilas tentang bencana raksasa yang pernah membunuh sepertiga penduduk Kairo. Barangkali karena dua hal tersebut, hari-hari terakhir aku gemar menghabiskan waktu di Masjid Sultan Hasan, sebuah masjid yang konon dana pembangunannya dikumpulkan dari harta peninggalan para korban Kematian Hitam.
Setiap aku berkunjung ke Masjid tersebut, penjiwaanku terhadap kehidupan serasa sedang diuji. Ingatanku tentang buku-buku sejarah mengalir begitu saja. Entahlah, akhir-akhir ini banyak perubahan dalam diriku yang tidak kumengerti penyebabnya. Terlebih lagi setelah berkenalan dengan perempuan cantik berdarah Kanada bernama Amanda.
“I can see the sadness in your eyes, it’s lovely.” Ucap Amanda waktu itu, mengawali perkenalan.
Perempuan itu datang menghampiriku seperti malaikat, pikiranku yang tadinya tersesat di abad 14 seketika kembali lagi ke tahun 2011. Perkenalan singkat dengan Amanda mampu menghadirkan gairah emosional luar biasa dalam diriku. Meskipun setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi. Sore itu tiba-tiba ia menghampiriku, duduk di depanku, menatap mataku; kemudian bilang darinya ia mampu melihat kesedihan, dan yang memaksaku tersenyum bila mengingatnya adalah ucapan, it’s lovely.
Di sela-sela perbincangan, ia melirik buku catatan yang tergeletak di sebelahku. Kuperhatikan wajah cantiknya, matanya memancarkan kecemasan.
"Bolehkah aku melihat buku catatanmu?"
"Tentu saja," ucapku mengulurkan buku tersebut, "Sekedar catatan-catatan kecil. Rata-rata aku menulisnya menggunakan bahasaku, aku yakin kau tidak tahu apa-apa tentang Bahasa Indonesia."
"Aku tidak tertarik membaca catatanmu," ia mulai membuka halaman, "Sebentar lagi aku harus pergi, bolehkah aku menulis sesuatu di sini sebelum kita berpisah?"
"Tentu saja boleh."
Ia sampai pada halaman bergambar seorang gadis berkerudung. Ditatapnya sekilas, kemudian tersenyum seraya memperlihatkan halaman tersebut ke arahku.
"Someone special?"
Aku hanya tersenyum.
"Istrimu?"
Aku tertawa kecil, "Tentu bukan, beberapa hari lagi ia baru berumur delapanbelas tahun."
"Oh," Amanda kembali memperhatikan sketsa yang baru kubuat beberapa menit lalu sebelum ia menghampiriku, "Beautiful."
"Apanya yang cantik?" Aku balik bertanya, "Sketsa yang kubuat, atau gadis itu?"
"Dua-duanya," jawabnya dengan tegas, "Dan terlihat sekali kau menggambarnya dengan penuh perasaan. Benarkah yang kupikirkan bahwasannya kau sangat mencintainya?"
Lagi-lagi aku hanya menimpalinya dengan senyuman. Meskipun dalam hati aku membenarkannya.
"Tidak perlu kau jawab, dari rautmu terlihat kau sangat mencintainya."
"Namanya Nuriya."
“Hemmm, secantik namanya," ucapnya, “Baiklah, Tuan. Senang sekali berbincang-bincang denganmu, tapi aku harus pergi sekarang."
"Tidak jadi menulis sesuatu?" Kuulurkan pena padanya.
"Oke," ia meraih pena tersebut, "Anggap saja ini kenang-kenangan."
Amanda menulis sesuatu tepat di halaman kosong yang menyebelahi sketsa bergambar Nuriya. Dengan cepat jarinya menuntun pena menuliskan kata-kata yang sudah terekam dalam kepalanya. Tanpa mengeluarkan suara, bibirnya turut membentuk kata demi kata seiring laju pena.
Tidak sampai satu menit ia sudah selesai, ia mengisyaratkannya dengan sedikit tekanan ketika memberi tanda titik yang terakhir, kemudian menutup buku tersebut dan mengulurkannya padaku.
"Mohon maaf kalau tulisan tanganku terlihat buruk."
Amanda berdiri. Tatapannya tajam. Senyumnya manis. Matanya, ah, kecemasan itu kembali terlihat. Sendu. Sangat sendu.
"Mudah-mudahan waktu kembali mempertemukan kita," ucapnya.
"Aku juga berharap begitu."
"Hidup sangat singkat John, lakukan sesuatu yang bisa membuat Nuriya senang!" Ucapnya tiba-tiba, seperti tengah teringat dengan pengalaman pribadinya.
"Ah," aku menghirup nafas dalam-dalam, "Dia tahu aku bersedia melakukan apapun untuknya, tapi dia tidak berharap apa-apa dariku kecuali doa. Bahkan ketika ia sedang patah sekalipun."
"Nah, berdoalah untuknya. Berdoalah juga supaya ia membutuhkanmu suatu saat nanti."
Aku sedikit terhibur mendengar ucapan Amanda barusan.
"Amanda, kau…"
"Ssssttt…" Ia memotong ucapanku, "Aku harus pergi sekarang. Yang kutulis dalam buku catatanmu bukan sekedar alasanku mendatangi kota ini."
Amanda membalikkan badan dan mulai mengambil langkah meninggalkanku, tanpa melontarkan apa-apa kecuali ucapan, "Bye!"
'Believe me,' adalah dua kata pertama yang ditulisnya, pada awalnya aku membatin ia menulis sesuatu yang dihasilkan pemikirannya sendiri, namun sebelum penutup ia menjelaskan bahwasannya ungkapan tersebut adalah potongan surat Maxime Du Camp untuk Theophile Gautier yang dihafalnya.
Aku mulai membatin perempuan yang baru berkenalan denganku adalah penggemar kesusastraan Perancis, atau barangkali sekedar penikmat karya-karya seniman Bohemian. Dua nama sastrawan di atas tidak asing di telingaku, tapi baru kali ini aku mengetahui bahwa Du Camp pernah merayu Gautier untuk mendatangi Mesir lewat sebuah surat.
Yang paling membuatku bingung dan cemas adalah ungkapan terakhir yang ditulis Amanda, atau boleh dibilang cerita berikut komentarnya terhadap isi surat tersebut; Tidak lama lagi aku akan meninggalkan kehidupan, dan betul sekali apa yang dikatakan Du Camp, di negeri ini aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Tiada guna sesal, tiada guna sedih.
Kututup buku tersebut dengan dihinggapi sekian pertanyaan tentang Amanda, perbincangan dengannya kembali terngiang-ngiang di telingaku. Apakah Amanda berniat bunuh diri, pikirku, ataukah ia tengah mengidap penyakit mematikan. Aku tidak tahu. Ukiran-ukiran berumur ratusan tahun yang saat ini mengelilingiku juga tidak memberikan jawaban apa-apa kecuali kebisuan.
Dari catatan Maqrizi aku mendapatkan betapa mencekam hari-hari ketika Kematian Hitam melanda kota ini. Penggambarannya atas kondisi masyarakat pada waktu itu sangat mengerikan, seseorang bisa berjalan dari Gerbang Zuwayla sampai Gerbang Futuh tanpa bersimpangan dengan siapapun. Mayat-mayat berserakan. Harta benda dibiarkan berserakan begitu saja, seolah-olah sama sekali tidak memiliki harga. Maqrizi juga mencatat kematian mencapai 10.000 sampai 20.000 nyawa di setiap harinya. Lebih dari itu, pengembara terkenal Ibnu Batutah, yang pada waktu itu berada di Kairo, menceritakan angka kematian sempat mencapai 24.000 nyawa dalam satu hari. Sungguh tidak aneh, bila Sultan Hasan mampu menyulap harta korban menjadi masjid semegah ini dengan mendatangkan beberapa pakar bangunan dari berbagai negara.
Sangatlah mengerikan mendengar kalimat terkenal Robert Penn Warren tentang sejarah; Sejatinya yang diungkapkan masa lalu adalah teguran bagi masa sekarang, karena dalam kehidupan apapun dapat terulang. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari kutipan tersebut kecuali ketakutan, timbul juga sebuah pertanyaan; adakah yang bisa kita pelajari dari bencana akibat Kematian Hitam kecuali mengumpulkan harta peninggalan korban? Apakah ungkapkan Charles Seignobos bisa seluruhnya dibenarkan, bahwasannya 'Sejarah bukanlah pengetahuan ilmiah, ia lebih cenderung sebuah metode'?
Aku kembali membaca tulisan tangan Amanda. Di mata Du Camp, Mesir tak ubahnya surga belantara. Suasana spiritual bisa dirasakan pada setiap hembusan nafas, nuansa eksotis terpancar dari setiap bangunan-bangunan kuno, betul-betul negeri penuh sensasi. Dan Amanda, meskipun bukan Gautier, merasa terpanggil oleh surat itu. Barangkali ia membenarkan ungkapan Du Camp, di negeri ini ia bisa merasa lebih dekat dengan Tuhan. Namun, yang ditulisnya tentang dirinya masih membayangi pikiranku. Sungguh misteri.
Melihat sejarah, tidak lain adalah mengaca pada cermin buram yang dikotori darah dan nanah, sementara belajar darinya adalah sebuah kewajiban. Beberapa hari lagi Nuriya ulang tahun, tidak mungkin aku menghadiahinya sekalimat doa yang sudah kusemburkan pada setiap nafas. Aku bisa membelikannya kerudung berwarna putih, atau beberapa tangkai bunga yang diikat pita merah, atau alangkah bijaksana kalau aku membelikannya sebuah buku bacaan yang mengandung warna-warni kehidupan. Ah, Nuriya.
Kairo, 11 Agustus, 2011.
Untuk Nuriya Haveedz, tentu.
READ MORE!
Tahun 1348 Masehi, wabah mematikan menyerang Mesir. Wabah ini diduga berasal dari padang rumput luas di Asia Tengah di mana sebuah gudang disangka menjadi pusat hama mematikan. Dengan cepat benih-benihnya tersebar hingga Laut Hitam, kemudian sampai ke daratan Mesir melalui tikus-tikus yang dibawa kapal-kapal para saudagar Kristen. Pada bulan Oktober tahun tersebut, ribuan penduduk Kairo mati karenanya, dan baru mereda pada bulan Februari tahun berikutnya. Hingga saat ini, wabah tersebut akrab dengan sebutan Black Death. Kematian Hitam.
Paragraf pertama di atas adalah potongan surat Maxime Du Camp untuk sahabat karibnya, Theophile Gautier. Sementara paragraf di bawahnya sekilas tentang bencana raksasa yang pernah membunuh sepertiga penduduk Kairo. Barangkali karena dua hal tersebut, hari-hari terakhir aku gemar menghabiskan waktu di Masjid Sultan Hasan, sebuah masjid yang konon dana pembangunannya dikumpulkan dari harta peninggalan para korban Kematian Hitam.
Setiap aku berkunjung ke Masjid tersebut, penjiwaanku terhadap kehidupan serasa sedang diuji. Ingatanku tentang buku-buku sejarah mengalir begitu saja. Entahlah, akhir-akhir ini banyak perubahan dalam diriku yang tidak kumengerti penyebabnya. Terlebih lagi setelah berkenalan dengan perempuan cantik berdarah Kanada bernama Amanda.
“I can see the sadness in your eyes, it’s lovely.” Ucap Amanda waktu itu, mengawali perkenalan.
Perempuan itu datang menghampiriku seperti malaikat, pikiranku yang tadinya tersesat di abad 14 seketika kembali lagi ke tahun 2011. Perkenalan singkat dengan Amanda mampu menghadirkan gairah emosional luar biasa dalam diriku. Meskipun setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi. Sore itu tiba-tiba ia menghampiriku, duduk di depanku, menatap mataku; kemudian bilang darinya ia mampu melihat kesedihan, dan yang memaksaku tersenyum bila mengingatnya adalah ucapan, it’s lovely.
Di sela-sela perbincangan, ia melirik buku catatan yang tergeletak di sebelahku. Kuperhatikan wajah cantiknya, matanya memancarkan kecemasan.
"Bolehkah aku melihat buku catatanmu?"
"Tentu saja," ucapku mengulurkan buku tersebut, "Sekedar catatan-catatan kecil. Rata-rata aku menulisnya menggunakan bahasaku, aku yakin kau tidak tahu apa-apa tentang Bahasa Indonesia."
"Aku tidak tertarik membaca catatanmu," ia mulai membuka halaman, "Sebentar lagi aku harus pergi, bolehkah aku menulis sesuatu di sini sebelum kita berpisah?"
"Tentu saja boleh."
Ia sampai pada halaman bergambar seorang gadis berkerudung. Ditatapnya sekilas, kemudian tersenyum seraya memperlihatkan halaman tersebut ke arahku.
"Someone special?"
Aku hanya tersenyum.
"Istrimu?"
Aku tertawa kecil, "Tentu bukan, beberapa hari lagi ia baru berumur delapanbelas tahun."
"Oh," Amanda kembali memperhatikan sketsa yang baru kubuat beberapa menit lalu sebelum ia menghampiriku, "Beautiful."
"Apanya yang cantik?" Aku balik bertanya, "Sketsa yang kubuat, atau gadis itu?"
"Dua-duanya," jawabnya dengan tegas, "Dan terlihat sekali kau menggambarnya dengan penuh perasaan. Benarkah yang kupikirkan bahwasannya kau sangat mencintainya?"
Lagi-lagi aku hanya menimpalinya dengan senyuman. Meskipun dalam hati aku membenarkannya.
"Tidak perlu kau jawab, dari rautmu terlihat kau sangat mencintainya."
"Namanya Nuriya."
“Hemmm, secantik namanya," ucapnya, “Baiklah, Tuan. Senang sekali berbincang-bincang denganmu, tapi aku harus pergi sekarang."
"Tidak jadi menulis sesuatu?" Kuulurkan pena padanya.
"Oke," ia meraih pena tersebut, "Anggap saja ini kenang-kenangan."
Amanda menulis sesuatu tepat di halaman kosong yang menyebelahi sketsa bergambar Nuriya. Dengan cepat jarinya menuntun pena menuliskan kata-kata yang sudah terekam dalam kepalanya. Tanpa mengeluarkan suara, bibirnya turut membentuk kata demi kata seiring laju pena.
Tidak sampai satu menit ia sudah selesai, ia mengisyaratkannya dengan sedikit tekanan ketika memberi tanda titik yang terakhir, kemudian menutup buku tersebut dan mengulurkannya padaku.
"Mohon maaf kalau tulisan tanganku terlihat buruk."
Amanda berdiri. Tatapannya tajam. Senyumnya manis. Matanya, ah, kecemasan itu kembali terlihat. Sendu. Sangat sendu.
"Mudah-mudahan waktu kembali mempertemukan kita," ucapnya.
"Aku juga berharap begitu."
"Hidup sangat singkat John, lakukan sesuatu yang bisa membuat Nuriya senang!" Ucapnya tiba-tiba, seperti tengah teringat dengan pengalaman pribadinya.
"Ah," aku menghirup nafas dalam-dalam, "Dia tahu aku bersedia melakukan apapun untuknya, tapi dia tidak berharap apa-apa dariku kecuali doa. Bahkan ketika ia sedang patah sekalipun."
"Nah, berdoalah untuknya. Berdoalah juga supaya ia membutuhkanmu suatu saat nanti."
Aku sedikit terhibur mendengar ucapan Amanda barusan.
"Amanda, kau…"
"Ssssttt…" Ia memotong ucapanku, "Aku harus pergi sekarang. Yang kutulis dalam buku catatanmu bukan sekedar alasanku mendatangi kota ini."
Amanda membalikkan badan dan mulai mengambil langkah meninggalkanku, tanpa melontarkan apa-apa kecuali ucapan, "Bye!"
'Believe me,' adalah dua kata pertama yang ditulisnya, pada awalnya aku membatin ia menulis sesuatu yang dihasilkan pemikirannya sendiri, namun sebelum penutup ia menjelaskan bahwasannya ungkapan tersebut adalah potongan surat Maxime Du Camp untuk Theophile Gautier yang dihafalnya.
Aku mulai membatin perempuan yang baru berkenalan denganku adalah penggemar kesusastraan Perancis, atau barangkali sekedar penikmat karya-karya seniman Bohemian. Dua nama sastrawan di atas tidak asing di telingaku, tapi baru kali ini aku mengetahui bahwa Du Camp pernah merayu Gautier untuk mendatangi Mesir lewat sebuah surat.
Yang paling membuatku bingung dan cemas adalah ungkapan terakhir yang ditulis Amanda, atau boleh dibilang cerita berikut komentarnya terhadap isi surat tersebut; Tidak lama lagi aku akan meninggalkan kehidupan, dan betul sekali apa yang dikatakan Du Camp, di negeri ini aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Tiada guna sesal, tiada guna sedih.
Kututup buku tersebut dengan dihinggapi sekian pertanyaan tentang Amanda, perbincangan dengannya kembali terngiang-ngiang di telingaku. Apakah Amanda berniat bunuh diri, pikirku, ataukah ia tengah mengidap penyakit mematikan. Aku tidak tahu. Ukiran-ukiran berumur ratusan tahun yang saat ini mengelilingiku juga tidak memberikan jawaban apa-apa kecuali kebisuan.
Dari catatan Maqrizi aku mendapatkan betapa mencekam hari-hari ketika Kematian Hitam melanda kota ini. Penggambarannya atas kondisi masyarakat pada waktu itu sangat mengerikan, seseorang bisa berjalan dari Gerbang Zuwayla sampai Gerbang Futuh tanpa bersimpangan dengan siapapun. Mayat-mayat berserakan. Harta benda dibiarkan berserakan begitu saja, seolah-olah sama sekali tidak memiliki harga. Maqrizi juga mencatat kematian mencapai 10.000 sampai 20.000 nyawa di setiap harinya. Lebih dari itu, pengembara terkenal Ibnu Batutah, yang pada waktu itu berada di Kairo, menceritakan angka kematian sempat mencapai 24.000 nyawa dalam satu hari. Sungguh tidak aneh, bila Sultan Hasan mampu menyulap harta korban menjadi masjid semegah ini dengan mendatangkan beberapa pakar bangunan dari berbagai negara.
Sangatlah mengerikan mendengar kalimat terkenal Robert Penn Warren tentang sejarah; Sejatinya yang diungkapkan masa lalu adalah teguran bagi masa sekarang, karena dalam kehidupan apapun dapat terulang. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari kutipan tersebut kecuali ketakutan, timbul juga sebuah pertanyaan; adakah yang bisa kita pelajari dari bencana akibat Kematian Hitam kecuali mengumpulkan harta peninggalan korban? Apakah ungkapkan Charles Seignobos bisa seluruhnya dibenarkan, bahwasannya 'Sejarah bukanlah pengetahuan ilmiah, ia lebih cenderung sebuah metode'?
Aku kembali membaca tulisan tangan Amanda. Di mata Du Camp, Mesir tak ubahnya surga belantara. Suasana spiritual bisa dirasakan pada setiap hembusan nafas, nuansa eksotis terpancar dari setiap bangunan-bangunan kuno, betul-betul negeri penuh sensasi. Dan Amanda, meskipun bukan Gautier, merasa terpanggil oleh surat itu. Barangkali ia membenarkan ungkapan Du Camp, di negeri ini ia bisa merasa lebih dekat dengan Tuhan. Namun, yang ditulisnya tentang dirinya masih membayangi pikiranku. Sungguh misteri.
Melihat sejarah, tidak lain adalah mengaca pada cermin buram yang dikotori darah dan nanah, sementara belajar darinya adalah sebuah kewajiban. Beberapa hari lagi Nuriya ulang tahun, tidak mungkin aku menghadiahinya sekalimat doa yang sudah kusemburkan pada setiap nafas. Aku bisa membelikannya kerudung berwarna putih, atau beberapa tangkai bunga yang diikat pita merah, atau alangkah bijaksana kalau aku membelikannya sebuah buku bacaan yang mengandung warna-warni kehidupan. Ah, Nuriya.
Kairo, 11 Agustus, 2011.
Untuk Nuriya Haveedz, tentu.
READ MORE!
Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu'ara, 24-27).
Begitu ayat tersebut turun dan dideklamasikan oleh Nabi, nama-nama seperti Ka’ab bin Malik, Hassan bin Tsabit, Ka'ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah beserta penyair-penyair muslim lainnya tergoncang hatinya. Mungkin mereka membatin, kata-kata indah yang telah lama mendarah daging dalam tubuhnya segera lenyap dari kehidupan. Sebagai seorang muslim yang taat tentu dengan senang hati melaksanakan apapun yang dititahkan Nabi, termasuk meninggalkan profesi sebagai penyair.
Kemudian tergopoh-gopoh dua di antara mereka menjadi perwakilan untuk meminta kejelasan kepada Nabi, Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Nabi menjawabnya, “Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidahnya.” Jawaban Nabi tersebut dapat mereka tangkap maksudnya, selama apa yang ditulis seorang penyair itu baik (tidak bertentangan dengan norma-norma agama) maka sah-sah saja menjadi penyair, bahkan sangat terpuji.
Sastra berbentuk syair memang sangat semarak pada masa itu, Islam yang dibawa Muhammad basah kuyup dihujani puisi-puisi dari para penyair jahiliyah. Karena talenta yang mereka miliki adalah meracik kata-kata, maka mereka pun mengolok-olok Islam lewat jalur kata-kata, jalur syair tentunya. Seperti halnya Abu Sufyan, sebelum masuk Islam penyair satu ini amat giat merangkai kata-kata busuk demi merendahkan martabat Islam. Talenta kebahasaannya yang memukau ia gunakan untuk menjelek-jelekkan Nabi berikut pengikutnya.
Lalu bagaimana Rasul melawan hujan kata-kata dari para penyair kafir itu? Saya kira tidak cukup dengan Al-Quran. Hati mereka lebih keras dibanding batu. Nabi Muhammad terlanjur mereka tuduh sebagai penyair, dan ayat-ayat al-Quran hanyalah puisi-puisi karangannya. Nabi cukup cerdik dengan masalah semacam itu, Islam pada waktu itu sudah memiliki daftar sendiri nama-nama penyair. Termasuk Ka’ab bin Malik dan beberapa nama yang sudah disebutkan di atas. Mereka menarikan pena di atas kulit-kulit onta dan pelepah-pelepah kurma syair-syair indah yang menjunjung tinggi kebesaran Tuhan, hingga syair-syair itu siap ‘diteriakkan’ di hadapan musuh-musuh-Nya. Sungguh menakjubkan, kata-kata dibalas dengan kata-kata. Rupanya benar, kata juga bisa jadi senjata.
Sungguh mulia para penyaji kata yang benar-benar menyajikan kata-katanya di jalan kebaikan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan menyiratkan amanat-amanat luhur yang terkandung dalam karya-karya mereka. Bila kita saksikan, sampai detik ini masih banyak kata-kata yang mempora-porandakan nilai-nilai perdamaian. Kata-kata dibebani oleh makna-makna yang tidak sepatutnya. Kata-kata disiksa, diperkosa, dibunuh pelan-pelan oleh para penulisnya demi tujuan politik. Kata-kata indah hanya dipakai untuk merakit sebuah topeng yang kemudian dipakai empunya menutupi wajah monsternya sendiri. Kata-kata tak lain sebuah kedok ternyata. Kata-kata dihamburkan kesana-kemari untuk mengibuli masyarakat dan mencari pembelaan dari masyarakat. Kata-kata semacam itu turun teramat deras layaknya hujan besar yang terjadi pada zaman Nuh dahulu. Kasihan sekali kata-kata…
Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang benar-benar sadar akan keadaan seperti ini. Bagaimana dengan kita yang sungguh mencintai kata-kata? Tentunya tidak berharap kata-kata diperlakukan senonoh dan sembarangan. Bagaimanapun kita harus mempersiapkan payung untuk berteduh sekaligus merakit senjata canggih untuh menghujani mereka dengan kata-kata pula. Dengan syair, prosa, opini, catatan ringan, juga cerita-cerita yang membangun dan mengentaskan manusia dari jurang diskriminasi dan amoral.
Huruf demi huruf, kata demi kata, para utusan Tuhan mati-matian membangun peradaban supaya sarat dengan nilai-nilai kedamaian. Kita?
*Untuk Nuriya Haveedz: Pada siapa kau arahkan senjata yang kau rakit pada setiap penghujung malam? Semoga bukan (sekedar) pada diri sendiri; karena menulis 'puisi kamar' bukanlah suatu kesalahan, namun bisa sangat berbahaya bila diprioritaskan.
READ MORE!
Begitu ayat tersebut turun dan dideklamasikan oleh Nabi, nama-nama seperti Ka’ab bin Malik, Hassan bin Tsabit, Ka'ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah beserta penyair-penyair muslim lainnya tergoncang hatinya. Mungkin mereka membatin, kata-kata indah yang telah lama mendarah daging dalam tubuhnya segera lenyap dari kehidupan. Sebagai seorang muslim yang taat tentu dengan senang hati melaksanakan apapun yang dititahkan Nabi, termasuk meninggalkan profesi sebagai penyair.
Kemudian tergopoh-gopoh dua di antara mereka menjadi perwakilan untuk meminta kejelasan kepada Nabi, Hasan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Nabi menjawabnya, “Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidahnya.” Jawaban Nabi tersebut dapat mereka tangkap maksudnya, selama apa yang ditulis seorang penyair itu baik (tidak bertentangan dengan norma-norma agama) maka sah-sah saja menjadi penyair, bahkan sangat terpuji.
Sastra berbentuk syair memang sangat semarak pada masa itu, Islam yang dibawa Muhammad basah kuyup dihujani puisi-puisi dari para penyair jahiliyah. Karena talenta yang mereka miliki adalah meracik kata-kata, maka mereka pun mengolok-olok Islam lewat jalur kata-kata, jalur syair tentunya. Seperti halnya Abu Sufyan, sebelum masuk Islam penyair satu ini amat giat merangkai kata-kata busuk demi merendahkan martabat Islam. Talenta kebahasaannya yang memukau ia gunakan untuk menjelek-jelekkan Nabi berikut pengikutnya.
Lalu bagaimana Rasul melawan hujan kata-kata dari para penyair kafir itu? Saya kira tidak cukup dengan Al-Quran. Hati mereka lebih keras dibanding batu. Nabi Muhammad terlanjur mereka tuduh sebagai penyair, dan ayat-ayat al-Quran hanyalah puisi-puisi karangannya. Nabi cukup cerdik dengan masalah semacam itu, Islam pada waktu itu sudah memiliki daftar sendiri nama-nama penyair. Termasuk Ka’ab bin Malik dan beberapa nama yang sudah disebutkan di atas. Mereka menarikan pena di atas kulit-kulit onta dan pelepah-pelepah kurma syair-syair indah yang menjunjung tinggi kebesaran Tuhan, hingga syair-syair itu siap ‘diteriakkan’ di hadapan musuh-musuh-Nya. Sungguh menakjubkan, kata-kata dibalas dengan kata-kata. Rupanya benar, kata juga bisa jadi senjata.
Sungguh mulia para penyaji kata yang benar-benar menyajikan kata-katanya di jalan kebaikan. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan menyiratkan amanat-amanat luhur yang terkandung dalam karya-karya mereka. Bila kita saksikan, sampai detik ini masih banyak kata-kata yang mempora-porandakan nilai-nilai perdamaian. Kata-kata dibebani oleh makna-makna yang tidak sepatutnya. Kata-kata disiksa, diperkosa, dibunuh pelan-pelan oleh para penulisnya demi tujuan politik. Kata-kata indah hanya dipakai untuk merakit sebuah topeng yang kemudian dipakai empunya menutupi wajah monsternya sendiri. Kata-kata tak lain sebuah kedok ternyata. Kata-kata dihamburkan kesana-kemari untuk mengibuli masyarakat dan mencari pembelaan dari masyarakat. Kata-kata semacam itu turun teramat deras layaknya hujan besar yang terjadi pada zaman Nuh dahulu. Kasihan sekali kata-kata…
Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia yang benar-benar sadar akan keadaan seperti ini. Bagaimana dengan kita yang sungguh mencintai kata-kata? Tentunya tidak berharap kata-kata diperlakukan senonoh dan sembarangan. Bagaimanapun kita harus mempersiapkan payung untuk berteduh sekaligus merakit senjata canggih untuh menghujani mereka dengan kata-kata pula. Dengan syair, prosa, opini, catatan ringan, juga cerita-cerita yang membangun dan mengentaskan manusia dari jurang diskriminasi dan amoral.
Huruf demi huruf, kata demi kata, para utusan Tuhan mati-matian membangun peradaban supaya sarat dengan nilai-nilai kedamaian. Kita?
*Untuk Nuriya Haveedz: Pada siapa kau arahkan senjata yang kau rakit pada setiap penghujung malam? Semoga bukan (sekedar) pada diri sendiri; karena menulis 'puisi kamar' bukanlah suatu kesalahan, namun bisa sangat berbahaya bila diprioritaskan.
READ MORE!
SINCE YOUR WILL BE MY CONCERN
2 Comments Published by fuddyduddy on Tuesday, July 12, 2011 at 3:58 AM.
What if time doesn't heal the pain?
You will scream in deep repentance
I could take you higher
breaking the chains
You would shine brighter
enchanting your name
Oh dear, the sign seems like a gun
Meant to complete
But someday it will tear you apart
There's no time for regret
You gotta seize the day
There's always time to build again
You're gonna reap one day
Am I gonna be the one to hold you?
Cause I'll always be the one behind you
Since your will be my concern
Face the morning sun
As it shines it's light
Try to expand
What's inside your mind
Be free
Be free
Be free
Be free
Am I gonna be the one to hold you?
Cause I'll always be the one behind you
Am I gonna be the one to see you through?
Am I gonna be the one to watch over you?
Maybe I'm gonna be the one to guide you
Cause I'll always be the one who wants you
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
READ MORE!
You will scream in deep repentance
I could take you higher
breaking the chains
You would shine brighter
enchanting your name
Oh dear, the sign seems like a gun
Meant to complete
But someday it will tear you apart
There's no time for regret
You gotta seize the day
There's always time to build again
You're gonna reap one day
Am I gonna be the one to hold you?
Cause I'll always be the one behind you
Since your will be my concern
Face the morning sun
As it shines it's light
Try to expand
What's inside your mind
Be free
Be free
Be free
Be free
Am I gonna be the one to hold you?
Cause I'll always be the one behind you
Am I gonna be the one to see you through?
Am I gonna be the one to watch over you?
Maybe I'm gonna be the one to guide you
Cause I'll always be the one who wants you
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
Since your will be my concern
All your dreams are my concern
READ MORE!
